Madu

PENGERTIAN MADU | JENIS-JENIS MADU | PROSES PEMBUATAN MADU | KOMPOSISI DAN KANDUNGAN MADU | MANFAAT MADU | LEBAH MADU | TENTANG MADU

 

1. Pengertian Madu

Codex Alimentarius Commision (1983/1984) mendefinisikan madu sebagai zat manis yang dihasilkan oleh lebah madu, berasal dari nectar bunga yang berkembang atau disekresi tanaman yang dikumpulkan oleh lebah, kemudian dibuah bentuk dan dikombinasikan dengan zat khusus yang ada pada tubuh lebah, selanjutnya disimpan hingga masak pada sel-sel madu.

Definisi madu menurut Food and Drug Administration ( FDA ) adalah produk alam yang dihasilkan lebah dengan bahan baku nektar bunga (senyawa kompleks yang dihasilkan oleh kelenjar necterifjier dalam bunga dan berbentuk larutan gula) dari tanaman yang dihisap dan dikumpulkan oleh lebah madu, kemudian diolah dan disimpan dalam sarang lebah untuk dimatangkan. Bentuk maclu berupa cairan kental seperti sirup, warnanya kuning pucat sampai coklat kekuningan, rasanya khas manis dengan aroma yang enak dan segar.

Madu merupakan cairan kental seperti sirup bewarna cokelat kuning muda sampai cokelat merah yang dikumpulkan dalam indung madu oleh lebah Apis mellifera. Konstituen dari madu adalah campuran dekstrosa dan fruktosa dengan jumlah yang sama dan dikenal sebagai gula invert 50-90% dari gula yang tidak terinversi dan air. Madu biasa dipalsukan dengan gula invert buatan, sukrosa, dan glukosa cair perdagangan. Madu dapat pula dipalsukan dengan cara pemberian suatu asupan kepada lebah berupa larutan gula sukrosa yang bukan berasal dari nektar ( Gunawan, 2004 ).

Rasa manis madu alami sesungguhnya memang melebihi manisnya gula karena kadar atau tingkat ke manisannya itu sedikitnya biasa mencapai 1 ½ kali dari rasa gula putih/pasir. Namun, walaupun begitu rasa manis madu alami disebut tidak memiliki efek-efek buruk seperti halnya yang terkandung didalam gula putih, karena kandungan senyawa utamanya seperti yang telah disebutkan, adalah karbohidrat (79,8%), dan air (17%).

Menurut hasil pengkajian dari para ahli, lebih dari 180 macam senyawa atau unsur dan zat nutrisi yang ada, terkandung di dalam madu alami. Dan jenis gula atau karbohidrat yang terdapat di dalam madu alami yakni fruktosa, yang memiliki kadar yang tertinggi, yaitu sedikitnya bias mencapai 38,5 gram per 100 gram madu alami. Sementara untuk kadar glukosa, maltosa, dan sukrosanya rendah. Fruktosa atau yang sering disebut Levulosa merupakan gula murni atau alami yang berasal dari saripati buah-buahan. Sedangkan sukrosa merupakan gula hasil olahan manusia yang bahan bakunya berasal dari batang pohon tebu. Oleh karena itu, sehingga dikenal sebagai sumber energi yang akan cepat pula tercena dan diserap serta bermanfaat sekali untuk memulihkan kelelahan setelah melakukan berbagai aktivitas berat lainnya.

Madu alami juga banyak mengandung enzim, yaitu molekul protein yang sangat komplek yang dihasilkan oleh sel hidup dan berfungsi sebagai katalisator, yakni : zat pengubah kecepatan reaksi dalam proses kimia yang terjadi di dalam tubuh setiap makhluk hidup. ( Purbajaya, J.R.2007 ).

Lebah madu menghasilkan madu yang dibuat dari nektar sewaktu musim tumbuhan berbunga. Sewaktu nektar dikumpulkan oleh pekerja dari bunga, bahan tersebut masih mengandung air tinggi (80%) dan juga sukrosa tinggi. Setelah lebah mengubah nectar menjadi madu, kandungan air jadi rendah dan sukrosa diubah menjadi fruktosa dan glukosa. ( Sihombing, 1997 ).

Madu tersusun atas beberapa molekul gula seperti glukosa dan fruktosa serta sejumlah mineral seperti Magnesium, Kalium, Potasium, Sodium, Klorin, Sulfur, Besi, dan Fosfat. Madu juga mengandung vitamin B1, B2, C, B6 dan B3 yang komposisinya berubah-ubah sesuai dengan kualitas madu bunga dan serbuk sari yang dikonsumsi lebah. Disamping itu, didalam madu terdapat pula tembaga, yodium dan seng dalam jumlah yang kecil, juga beberapa jenis hormon. ( Sarwono, 2001 ).

Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa lebah memilih bunga penghasil madu, pertama dari warna dan kedua dari bau bunga. Madu dibuat oleh lebah dari nektar bunga. Lebah mengisapnya dari bunga dan membawanya ke sarangnya. Setiap lebah pekerja menumpuk nektar yang di kumpulkannya dalam suatu kantong khusus didalam tubuh yang disebut perut madu. Setelah lebah mendepositkan nektar dalam sarang, dibiarkan sebagian besar airnya menguap sehingga cairan semakin kental (nektar dapat mengandung sekitar 70% air sewaktu dipungut, lebah pekerja mengipasnya dengan sayap sehingga dapat menurunkan kadar air hingga 17%). ( Sihombing, 1997 ).

2. Jenis Madu

2.1. Madu berdasarkan asal nektarnya dapat digolongkan menjadi tiga bahagian yaitu :

  1. Madu Flora adalah madu yang dihasilkan dari nektar bunga. Yang berasal dari satu jenis bunga disebut madu monoflora, yang berasal dari aneka ragam bunga disebut madu poliflora. Madu polyfloral dihasilkan dari beberapa jenis tanaman dari nektar bunga.
  2. Madu Ekstraflora adalah madu yang dihasilkan dari nektar diluar bunga seperti daun, cabang atau batang tanaman.
  3. Madu Embun adalah madu yang dihasilkan dari cairan hasil suksesi serangga yang meletakkan gulanya pada tanaman, kemudian dikumpulkan oleh lebah madu dan disimpan dalam sarang madu.

2.2. Madu berdasarkan proses pengambilannya menurut Sarwono (2001) dapat digolongkan menjadi dua bahagian yaitu :

  1. Madu Ekstraksi ( Extracted Honey ) Diperoleh dari sarang yang tidak rusak dengan cara memusingkan atau memutarnya memakai alat ekstarktor.
  2. Madu Paksa ( Strained Honey ) Diperoleh dengan merusak sarang lebah lewat pengepresan, penekanan atau lewat cara lainnya.

Nektar adalah senyawa komplek yang dihasilkan oleh kelenjar “necterifire” tanaman dalam bentuk larutan gula dengan konsentrasi yang bervariasi. Komponen utama dari nektar adalah sukrosa, fruktosa dan glukosa disamping terdapat juga dalam jumlah sedikit zat-zat gula lainnya seperti maltosa, melibiosa, rafinosa serta turunan karbohidrat lain. Zat-zat lain yang jumlahnya sangat sedikit juga terdapat seperti asam-asam organik, resin, protein, garam dan mineral. Konsentrasi gula nektar bervariasi, mulai dari 5 persen sampai 70 persen atau lebih, tergantung dari keadaan iklimnya, jenis tanaman serta faktor lainnya.

Sebelum nektar berubah menjadi madu, maka harus mengalami proses tahapan dahulu. Seperti tahap pengumpulan nektar dari tanaman dan proses pengubahan nektar menjadi gula invert yang kemudian dilanjutkan dengan pengurangan jumlah kandungan air dan pematangan madu di sarang lebah. Menurut para ahli, proses penyerbukan bunga secara alami dilakukan oleh serangga, air dan angin. Di mana hampir 80% dilakukan oleh serangga yaitu lebah madu. Dengan demikian lebah madu membantu dalam meningkatkan produktivitas tanaman. Proses pengambilan makanan yang berupa nektar (madu) dan pollen (tepung sari bunga) dari tanaman oleh lebah madu tidak akan menyebabkan kerusakan pada bagian tanaman tersebut, bahkan sebaliknya, akan membantu penyerbukan.

Lebah menambahkan enzim dan bahan anti mokroba selama proses pemindahan (Siregar, 2006). Enzim utama madu adalah diastase (amilase), invertase dan glukosa oksidase. Diastase berperan dalam menguraikan glikogen menjadi gula-gula sederhana, invertase menguraikan sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa dan glukosa oksidase berperan dalam memproduksi hidrogen peroksida serta glukosa asam glukonik (Suarez et al., 2010). Lebah menurunkan kadang hingga sekitar 50%, selanjutnya akan memasukkannya ke sel madu yaitu sel-sel yang terdapat di bagian atas sisiran. Lebah pekerja masih terus mengipasi madu di dalam sel sampai kadar air mencapai sekitar 20%, selanjutnya sel ditutupi atau disegel dengan malam (wax). Madu dalam sel yang tersegel disebut madu matang dan sudah dipanen. Proses pembentukan madu yang melibatkan banyak bunga dari berbagai tanaman dan banyak lebah menyebabkan madu dari setiap koloni lebah memiliki komposisi kimia, penampilan fisik, maupun ciri biologi yang khas

3. Proses Pembuatan Madu

Langkah pertama dari proses pembuatan madu oleh lebah adalah, untuk mengumpulkan nektar dari berbagai macam bunga dan tanaman, terutama selama musim panas. Lebah pekerja adalah perempuan seksual belum dewasa yang bekerja intens untuk mengunjungi bunga ( bunga pohon buah, dandelion, cengkeh ) dan kemudian membawa beban nektar ke sarang lebah dan usaha ini berat biaya mereka hidup mereka, karena mereka hidup hanya enam minggu . Nektar tanaman adalah cairan menggabungkan 80% air, gula kompleks alami ( sebagian besar sukrosa ) dan esensial asam amino, termasuk arginin, prolin, alanin, isoleusin, serin, valin dan glisin. Berbagai jenis nektar adalah sumber utama yang digunakan oleh lebah untuk membuat madu.

Pada waktu nektar dikumpulkan, bahan tersebut masih mengandung kadar air tinggi ( ±85% ) dan sukrosa tinggi. Setelah lebah mengubah nektar menjadi madu dan dimatangkan secara alami dalam sarang, maka kandungan air menjadi rendah ( kadar air 17-20% ). Demikian pula sukrosa pada nektar,akan di ubah lebah menjadi glukosa dan fruktosa (monosacharida) yang mudah dicerna dan diserap tubuh.

Proses pematangan madu dalam sarang inilah yang menentukan kualitas madu. Jadi, kualitas madu ditentukan oleh pematangan madu secara alami dalam sarang atau kadar air, bukan oleh jenis nektar atau tanaman madu tersebut berasal. Jenis bunga atau lokasi penggembalaan lebah akan menentukan jenis madu ( penamaan madu ).Misal: lebah yang digembalakan di kebun mangga maka madu yang berhasil di panenpun dinamakan madu mangga. Tetapi tetap proses pematangan madu yang paling mempengaruhi kwalitas madu yang di hasilkan lebah, selain faktor-faktor lainnya.

Penerima ( sarang lebah ) lebah madu mulai memproses madu di mulut mereka dan dalam perut madu mereka dengan menambahkan enzim khusus yang memecah gula kompleks hadir dalam madu menjadi gula sederhana, dengan tujuan untuk membuat mereka lebih mudah dicerna oleh lebah. Gula sederhana ini kurang rentan terhadap kristalisasi. Proses ini dikenal sebagai inversi berlangsung selama hampir setengah jam. Selain itu, proses konversi ini juga membuat madu makanan yang sangat stabil terhadap berbagai bakteri, jamur dan jamur dan memungkinkan untuk menahan selama bertahun-tahun tanpa pendinginan. Dengan demikian, enzim yang dikenal sebagai invertase yang dihasilkan oleh lebah mengubah sukrosa, yang merupakan disakarida menjadi fruktosa dan glukosa, yang keduanya monosakarida atau gula enam-karbon.

Sebuah enzim kedua, yang disebut oksidase glukosa mengubah sebagian kecil dari glukosa menjadi hidrogen peroksida dan asam glukonat. Senyawa alami terakhir ini bertanggung jawab untuk mengubah madu ke dalam lingkungan asam dengan pH sangat rendah di mana berbagai macam patogen tidak dapat bertahan hidup. Hidrogen peroksida juga melindungi, meskipun untuk jangka pendek, terhadap mikroorganisme berbahaya ini, di terutama selama proses pembuatan madu dan selama cairannya untuk tujuan makan induk mereka.

Zat khusus pada lebah yang berfungsi dalam proses pemecahan gula adalah cairan saliva lebah yang mengandung enzim-enzim hidrolase. Enzim invertase yang ditambahkan oleh lebahpekerja ketika meminum dan memuntahkan kembali madu, berfungsi untuk mengubah sukrosa menjadi dekstrosa ( gukosa ) dan levulosa( fruktosa ).

Setelah perubahan ini diperlukan, deposit tetesan kecil lebah madu pada sisi atas dari sel-sel di sisir madu, di mana terjadi langkah akhir dari proses transformasi menjadi madu kental. Sebelum menempatkannya ke dalam madu sisir untuk bulan musim dingin, proses penguapan terjadi untuk tujuan mengurangi persentase air dari 80% menjadi hanya 17-18% dan memberikan tekanan osmotik tinggi.

Penguapan kelebihan kelembaban dipercepat oleh suhu hangat, dari 95 derajat Fahrenheit, di sarang lebah serta oleh fluks udara yang terjadi setelah nektar ditempatkan ke dalam madu sisir. Dalam rangka untuk memastikan jumlah yang diperlukan udara ada, semua lebah madu mulai kipas coordonately sayap mereka, sebagai sebuah tim. Karena proses penguapan dalam sangat penting, lebah madu aktif bahkan selama malam hari, ketika mereka dapat didengar memaksa sirkulasi udara dalam rangka untuk semakin mengubah gula menjadi madu.

Mengapa lebah membuat madu ?

Lebah membuat madu karena madu itu adalah bahan makanan dari lebah itu sendiri. Jadi, proses pembuatan madu itu tidak lain adalah mengumpulkan makanan untuk koloni lebah dalam satu sarang lebah.

Langkah pertama yang dilakukan seekor lebah adalah mendatangi setangkai bunga dan menghisap nektar atau air madunya. Lalu, di dalam sebuah kantong madu, dibawalah nektar atau air madu itu pulang ke sarang lebah. Kantong madu ini adalah bagian tubuh di depan perut lebah yang agak membesar dan berbentuk mirip sebuah kantong. Tentu saja ada terdapat sekat tertentu yang membatasi jaringan isi perut lebah dengan kantong madunya. Proses awal pembuatan madu sudah dimulai sejak nektar bunga atau air madu itu berada di dalam kantong madu seekor lebah. Zat gula yang terdapat dalam nektar bunga mengalami suatu perubahan kimiawi. Langkah selanjutnya adalah proses pembuangan sebagian besar air yang terdapat dalam nektar atau air madu itu. Hal ini terjadi dengan cara penguapan, yang terjadi karena panas suhu di dalam sarang labah dan juga karena adanya ventilasi atau pertukaran udara yang terjadi di dalam sarang koloni lebah.

4. Komposisi Dan Kandungan Madu

Apa anda percaya bahwa rasa manis  yang terdapat di dalam madu itu berlipat-lipat jika dibandingkan dengan rasa manis gula buatan ( sintesis )  ?

Dan bahwa jenis gula yang terkandung di dalam madu adalah lebih dari lima belas jenis. Di antaranya adalah fruktosa ( gula buah ) glukosa ( gula anggur ), sukrosa ( gula tebu ), dan maltosa ( gula gandum ).

Di dalam madu juga terkandung berbagai vitamin yang banyak dan lebih lengkap dari makanan lain yang mungkin telah memenuhi seluruh vitamin yang dibutuhkan oleh manusia, yaitu :

Vitamin A (retinol), B1 (thiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin), B5 (asam pantotenat), B6 (piridoksin), C (asam askorbat), D (kalsiferol), E (tokoferol) dan K (filokuinona)  ).

Ini semua merupakan vitamin-vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh dan dengan mudah bisa terserap oleh tubuh selama kira-kira satu jam setelah minum madu. Berbeda dari berbagai vitamin yang terdapat secara terpisah-pisah pada berbagai makanan lain yang lebih lambat penyerapannya dibandingkan vitamin yang terdapat di dalam madu.Inilah keistimewaan madu murni, mentah, asli dan alami .

Di dalam madu juga terdapat kandungan mineral dan garam seperti;

besi, sulfur, magnesium, kalsium, kalium, sodium, klorin, tembaga, krom, nikel, lead, silica, mangan, alumininum, aurum, lithium, thin, zink, dan titanium.

Sungguh menakjubkan, karena semua mineral tersebut merupakan komposisi tanah yang darinya manusia diciptakan.

Di dalam madu juga terkandung bermacam-macam enzim dan asam alami yang sangat penting untuk kehidupan dan aktivitas tubuh manusia, misalnya:

enzim amylase, enzim katalase, enzim fosfolirase, enzim diastase, invertase, peroksidase,lipase, glukosa oksidase dan beberapa enzim lainnya.

Adapun macam-macam asam yang terkandung dalam madu adalah:

formic acid, lactic acid, atric acid, tartaric acid, oxalid acid asam fosfat, dan asam glutamat.

Asam utama di dalam madu adalah asam glutamat, dan asam yang lain madu adalah berupa asam-asam organik. Di dalam madu juga terkandung hormon-hormon kuat yang berfungsi menggiatkan dan memacu kerja organ-organ tubuh. Hormon gonaprodin ( jenis hormon reproduksi ) di gunakan oleh ratu lebah madu untuk membantu kesuburan reproduksi ratu lebah dan mempercepat proses pematangan telur.

Karena itu di dalam madu juga terkandung anti-biotik yang melindungi manusia dari berbagai macam penyakit dan membunuh berbagai bakteri dan mikroba. Telah diketahui pula bahwa di dalam madu terdapat dotorium ( hydrogen berat ) yang berfungsi sebagai anti kanker.

5. Manfaat Madu

Apa sajakah manfaat yang terdapat dari madu lebah secara umum ? Beberapa manfaatnya antara lain adalah :

5.1. Madu untuk Sumber Energi dan Nutrisi

Pada masa lalu, para atlet Romawi dan Yunani kuno meminum madu sebelum dan sesudah bertanding sebagai obat untuk stamina dan pemulih energi. Selama berabad-abad madu memang dikenal sebagai bahan bakar para olahragawan ini karena madu mengandung gula yang cepat diserap oleh sistem pencernaan jadi madu adalah sumber energi instan. Hingga kini, dalam dunia olahraga madu diberikan sebelum pertandingan dan sebagai pengganti karbohidrat yang digunakan pada saat latihan.

5.2. Madu Seefektif Glukosa

Hasil riset yang dikeluarkan sebuah jurnal kesehatan menyebutkan kadar glycemic index ( GI ukuran untuk mengukur dampak negatif makanan dalam gula darah ) yang rendah pada madu memperlambat penyerapan gula dalam darah sehingga lebih menyehatkan sistem pencernaan dan menjamin ketersediaan karbohidrat selama berolahraga. Sementara itu, Laboratorium Nutrisi di Universitas Mempish menyatakan bahwa madu seefektif glukosa pengganti karbohidrat selama pemanasan.

5.3. Madu untuk Penyembuh Luka

Dalam dunia pengobatan masyarakat Yunani dan Romawi mempelopori penggunaan madu untuk mengobati hidung tersumbat sementara itu bangsa Mesir kuno menjadi pelopor pemanfaatan madu untuk mengobati luka. Mereka membuat salep dari madu untuk mengobati luka bakar dan luka akibat tusukan benda tajam.

5.4. Madu sebagai Antibiotik

Setelah ribuan tahun digunakan, khasiat madu sebagai obat luka terungkap secara ilmiah. Madu bekerja sebagai antibiotik alami yang sanggup mengalahkan bakteri mematikan. Madu bersifat asam sehingga tidak cocok untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri. Madu menghasilkan hidrogen peroksida yang merupakan anti septik luar biasa. Proses osmosis di dalam madu membasmi atau membunuh bakteri. Kekentalan madu yang sedikit mengandung air menghasilkan proses osmosis yaitu; menyerap air dari bakteri pada luka dan luka bakar, seperti halnya spons yang menyerap air. Madu mengeringkan bakteri sehingga bakteri sulit tumbuh.

5.5. Madu untuk Membunuh Kuman

Kandungan gizi yang luar biasa dalam madu antara lain asam amino bebas dalam madu yang mampu membantu penyembuhan penyakit. Madu mengandung zat antibiotik yang berguna untuk mengalahkan kuman patogen penyebab panyakit infeksi. Mengikuti bangsa mesir kuno setelah menempuh kajian untuk menemukan fakta ilmiah, salep madu untuk luka kini telah di produksi di Australia.

5.6. Madu untuk Terapi

Bangsa Mesir dikenal paling terampil meramu obat dari bahan-bahan alami. Madu termasuk dalam 500 resep obat dari 900 resep yang diketahui. Pengobatan modern yang mengacu pada terapi kuno penggunaan madu dari Mesir puas dengan hasil yang diperoleh.

5.7. Madu untuk Mengobati Borok

RS Universitas Wisconsin Medical School and Public Health misalnya, Menerapkan terapi madu bagi borok yang diderita penderita diabetes. Uji coba terhadap seorang pasien berusia 79 tahun berhasil menyembuhkan borok pada jari kakinya. Sang pasien bahkan tidak jadi diamputasi berkat terapi madu tersebut.

5.8. Madu untuk Antioksidan

Di Selandia Baru, terapi madu berhasil menyembuhkan lecet pada punggung pasien yang terlalu lama terbaring di ranjang rumah sakit. Di Uni Emirat Arab, terapi madu untuk luka akibat herpes bibir dan alat kelamin mempercepat penyembuhan dan mengurangi rasa sakit. Sementara itu untuk membuktikan peran madu sebagai antioksidan peneliti di Universitas California membuktikan konsumsi madu mampu meningkatkan antioksidan dalam darah. Uji coba pada tikus untuk mengkaji kemampuan madu meningkatkan penyerapan kalsium memberikan hasil memuaskan. Riset di Universitas Purdue itu menyimpulkan, konsumsi suplemen kalsium bersama madu mampu meningkatkan penyerapan kalsium oleh tubuh.

5.9. Madu untuk Awet Muda

Mengapa Ibu Suri Kerajaan Inggris dan Ratu Elizabeth berumur panjang ? Bisa diyakini, madu berperan besar dalam menjaga kesehatan sehingga membuat keduannya berumur panjang. Bagi keluarga Kerajaan inggris, sarapan madu adalah kebiasaan setiap hari mereka mengoleskan madu berkualitas tinggi pada roti. Manis alami madu digunakan di Inggris hingga pertengahan abad ke-17. Kebiasaan tersebut sempat berubah ketika gula yang dianggap lebih berkelas mulai di produksi. Namun setelah gula semakin meluas pemakaiannya tak lagi terbatas pada kalangan atas, keluarga kerajaan kembali mengkonsumsi madu. Itulah sebabnya kesehatan mereka terjaga dengan baik.

5.10. Madu Mengatasi Kekurangan Kalsium

Dari hasil penelitian oleh dr.Berdine Martin pada binatang di Universitas Purdue menujukkan bahwa konsumsi madu akan menguntungkan karena akan meningkatkan penyerapan kalsium. Semakin tinggi kadar madunya maka akan semakin meningkat penyerapan kalsiumnya. Kalsium sangat bagus untuk mencegah osteoporosis ( pengeroposan tulang ) karena salah satu cara alami mencegah osteoporosisi adalah dengan mengkonsumsi makanan-minuiman berkalsium. Kalsium adalah zat pembentuk tulang dan penyerapannya dapat ditingkatkan atau dihambat oleh zat lain. Vitamin D, Asam amino dan gula madu di teliti dapat meningkatkan penyerapan kalsium sedangkan zat logam, fitiat dan oksalat dapat menghambat penyerapan kalsium oleh tulang.

6. Lebah Madu

Lebah dalam bahasa Latin disebut Apis, –sejenis serangga penghasil madu. Terkait dengan rantai kehidupan di alam, lebah membantu proses penyerbukan alami bagi tumbuhan-tumbuhan. Manusia bisa melihat berjuta jenis tanaman di alam, beragam bunga yang indah dan pepohonan, serta menikmati aneka buah-buahan. Peristiwa alami yang berlangsung dari masa ke masa itu terjadi berkat kerja koloni lebah.

6.1. Jenis-Jenis Lebah

Lebah termasuk dalam kelas insekta dan tergolong dalam jenis serangga yang berdarah dingin yakni hewan yang suhu tubuhnya dipengaruhi oleh perubahan suhu hawa yang ada disekitarnya. Menurut Sumoprastowo dan Suprapto (1993) lebah madu termasuk dalam famili Apidae. Terdapat di Eropa, Afrika, dan Asia. Pada Apidaae, madu dan tepung sari disimpan dalam sisiran yang vertikal, dan tempayak dibesarkan dalam sisiran yang sama.

Menurut Hasanuddin (2003), klasifikasi lebah madu adalah sebagai berikut :

Kingdom : Animalia

Phylum : Arthropoda

Class : Insecta

Ordo : Hymenoptera

Family : Apidae

Genus : Apis

Species : Apis Andreniformis, Apis cerana, Apis nigrocineta, Apis dorsata, Apis florea, Apis koschevnikovi, Apis laboriosa, Apis mellifera.

Menurut Sihombing (1997) A.andreniformis, A.cerana, dan A.dorsata adalah lebah alam Indonesia, A.florea di Yunan, Cina, A.koschevnikovi di Serawak (Kalimantan), A.laboriosa di Himalaya dan A.mellifera berasal dari kawasan laut tengah.

Lebah madu adalah serangga sosial yang hidup bergerombol membentuk koloni.Dari 20.000 spesies lebah yang dikenali hanya lebah madu yang menghasilkan madu (Rusfidra,2006).

Menurut Sarwono (2001) famili Apidae merupakan jenis lebah penghasil madu sejati. Yang paling penting sebagai penghasil madu dan lilin adalah lebah madu dari genus Apis.

Perbedaan Lebah Hutan Dan Lebah Ternak :

1. Beda jenis lebahnya

Lebah madu hutan dari jenis Apis dorsata sedangkan madu ternak dari jenis Apis cerana, Apis trigona,Apis indica atau Apis melifera sehingga, otomatis juga akan mempunyai perbedaan di jenis sarang, jenis nektar ( sumber makanan lebah ) yang akhirnya akan mempengaruhi perbedaan rasa, bau dan warna madu yang mereka hasilkan.

2. Beda perlakuannya

Madu hutan didapat dari jenis lebah liar ( bahasa inggrisnya untuk madu hutan adalah wild honey ) yang sampai saat ini belum dapat ditangkarkan, sedangkan madu ternak dapat ditangkarkan. Madu lebah ternak diberi suplemen makanan tambahan berupa sirup gula, tetes tebu atau cairan lainnya yang sejenis sedangkan madu lebah hutan ( Apis dorsata ) tidak.

3. Beda standar kadar airnya

Karena lebah hutan ( Apis dorsata ) membuat sarang di tempat terbuka ( batang pohon, ranting pohon ,batu karang dll ) sehingga otomatis menjadi lebih terpengaruh akan perubahan musim dibanding sarang lebah ternak yang berada di dalam kotak ( stup ) sehingga madu hutan, jumlah dan waktu panen tidak pernah dapat dipastikan dengan pasti. Kadar air standar madu hutan yang ditentukan oleh JMHI ( jaringan madu hutan indonesia ) sekitar 24% sedangkan kadar air madu ( ternak ) SNI ( setandart nasional indonesia ) 21% .

6.2. Morfologi dan Anatomi Lebah Madu

  • Morfologi ( Struktur Eksternal )

Tubuh lebah madu terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen). Seperti halnya insekta lebah tidak mempunyai kerangka internal tempat otot bertaut, tetapi sebagai penggantinya adalah penutup tubuh eksternal yang mengandung Chitin dan menutupi organ dalam.

  • Anatomi ( Struktur Internal )

Anatomi lebah madu dalam hal ini meliputi sistem pencernaan, sistem penginderaan, dan sistem reproduksi. Sistem pencernaan pada lebah madu berturut-turut adalah: mulut, osefagus, kantong madu, proventriculus, ventriculus, usus halus, usus besar, colon dan rectum. Sistem penginderaan pada lebah madu meliputi indera penglihat, indera pencium, dan indera peraba. Dalam hal sistem reproduksi, organ reproduksi yang berkembang sempurna pada lebah hanya pada lebah jantan dan ratu. Seekor lebah ratu dewasa yang produktif dapat menelurkan 1000-2000 sel telur per hari.

6.3. Habitat Lebah Madu

Salah satu syarat hidup lebah adalah adanya tanaman. Secara umum lebah bisa hidup di seluruh belahan bumi, kecuali di daerah kutub. Hal ini disebabkan di daerah kutub tidak ada tanaman yang menjadi sumber pakan lebah. Di daerah tropis lebah dapat berkembang biak dengan baik dan produktif sepanjang tahun karena tumbuhan sebagai sumber pakan tersedia terus. Di daerah sub tropis lebah tidak produktif pada musim dingin (Suranto,2004). Di alam bebas lebah tinggal di gua-gua dalam hutan termasuk di tebing-tebingnya. Di hutan, koloni lebah juga tinggal di pohon-pohon yang berlubang. Sementara di daerah peternakan lebah tinggal didalam tempat yang sudah disediakan namanya stup.

6.4. Koloni Lebah Madu

Lebah madu hidup dalam suatu keluarga besar yang disebut koloni, yang berdiam dalam satu sarang lebah (Rusfidra, 2006). Sampai saat ini jenis koloni yang umum dibudidayakan adalah jenis apis cerana dan apis mellifera. (Hasanuddin,2003). Di dalam koloni terdapat seekor lebah ratu, beberapa ratus lebah jantan dan puluhan ribu lebah pekerja.Menurut Ashari (1998) jumlah ini tergantung pada efektivitas penyerbukan dan kondisi makanan (bunga) setempat. Masing-masing anggota koloni memiliki pekerjaan yang dilakukan secara fungsional dan profesional. Sel sarang atau sisir, semacam malam merupakan tempat lebah tersebut berkelompok. Sel sarang atau sisir tersebut digunakan sebagai tempat penyimpanan makanan dan tempat telur/ pemeliharaan keturunannya.Jumlah makanan yang tersimpan dalam sarang tergantung pada kondisi flora, cuaca, jumlah lebah perkoloni, dan jenis lebah.

  • Lebah Ratu

Lebah ratu merupakan pemimpin koloni dan bertanggung jawab terhadap keutuhan dan kekompakkan koloni. Ratu ini berjenis kelamin betina dan hanya terdapat satu ekor dalam tiap koloni,Tugas utamanya adalah menghasilkan telur untuk perkembangan koloni. Ukuran ratu paling besar, panjang badannya hampir dua kali dan beratnya hampir tiga kali lebah pekerja. Umur ratu bisa mencapai enam tahun (Suranto,2004).

  • Lebah Jantan.

Lebah jantan berasal dari telur yang tidak dibuahi. Lebah ini berfungsi sebagai lebah pemacek, yakni mengawini ratu muda. Jika beruntung, seekor lebah jantan hanya dapat kawin sekali selama hidupnya, karena setelah berhasil mengawini ratu, lebah ini akan mati. Karena sifatnya yang pemalas, pada saat krisis makanan, banyak lebah jantan dibunuh oleh lebah pekerja (Rusfidra,2003).

  • Lebah Pekerja

Lebah pekerja adalah kelompok yang jumlahnya paling banyak dalam koloni. Lebah pekerja juga berasal dari sel telur yang dibuahi. Ovariumnya tidak berkembang sempurna sehingga tidak dapat bertelur. Lebah pekerja bertanggungjawab kesejahteraan koloni. Kecuali tugas reproduksi, semua pekerjaan pada koloni lebah madu sepenuhnya dilakukan oleh lebah pekerja. Tugas lebah pekerja sesuai dengan perkembangan umur. Dari mulai menetas sampai umur tiga hari sebagai petugas kebersihan. Umur 3 – 12 hari bertugas sebagai perawat larva. Sejak hari ke 13-18 bertugas membuat dan memoles sisiran sarang. Dari umur 18 sampai 20 bertindak sebagai pengawal dan menjaga kesegaran udara di dalam sarang. Mulai hari ke-20 sampai datangnya kematian lebah bertugas mengumpulkan nektar, polen, propolis dan air. Dimasa tuanya lebah pekerja berperan sebagai pemandu bagi lebah muda untuk mencari lokasi pengumpulan nektar, polen, propolis dan air ( Rusfidra,2003 )

6.5. Pembentukan Koloni Dan Sarang

Ratu menghasilkan feromon, –senyawa kimia pemersatu koloni dalam satu kesatuan terorganisasir (Lebah Madu, Cara Beternak & Pemanfaatan, 2003). Pembentukan koloni lebah diawali dengan pertempuran sengit antara ratu dengan calon ratu. Jika ada calon ratu baru, larva dimatikan oleh ratu. Jika ada yang sempat lahir, ratu yang lama bertarung dengan ratu baru hingga salah satunya mati atau ratu yang kalah meninggalkan sarang diikuti sebagian lebah pekerja yang setia. Biasanya ratu yang eksodus justru ratu tua, dan kemudian membentuk koloni baru. Ratu tua yang tidak produktif dimatikan oleh lebah pekerja dan diangkat ratu baru.

Alasan perpindahan sebuah koloni lebah untuk mencari sumber pakan baru karena di tempat lama sumber pakan dan air berkurang, sarang terlalu panas, kena gangguan penyakit atau ada pengganggu (pemangsa) yang terus-menerus.

Sarang lebah tersusun dari jajaran heksagonal yang merupakan tempat bertelur, tempat menyimpan madu dan tempat pengumpulan tepung sari bunga. Bentuk ini memiliki keunggulan dibanding bentuk bulat atau persegi (dr Adji Suranto, SpA, 2005). Bentuk heksagonal membutuhkan bahan yang relatif sedikit, tetapi memiliki kapasitas sebagai tempat penyimpan yang maksimal. Jika sarang berbentuk bulat, tentu ada ruangan yang tidak terpakai. Jika berbentuk persegi empat, pemakaian bahan jadi lebih banyak. Umumnya satu sarang menghasilkan sekitar 150 kg madu setiap musim.

6.6. Siklus Hidup Lebah Madu

Lebah ratu yang bertelur subur siap menghasilkan lebah pekerja dan lebah ratu, dan telur yang tidak subur menghasilkan lebah jantan. Kedua jenis telur tersebut tampaknya sama. Dari kedua jenis telur itu, telur calon lebah pekerja jsutru yang terbanyak dihasilkan. Telur calon lebah jantan dihasilkan sejak awal musim bertelur dan jelang hijrah ke jumlah yang tidak terbatas.Telur calon lebah pekerja diletakkan di sel yang terkecil dibanding sel untuk telur calon lebah jantan. Sel berpenghasilan larva lebah jantan memiliki tudung lilin lebih cekung dan lebih dalam dibanding sel larva lebah betina.

Setelah tiga hari di dalam sel, telur menetas jadi larva yang tidak miliki sayap atau kaki dan tampak seperti seekor ulat dengan pakan terbanyak agar tumbuh lebih cepat. Dalam waktu singkat, tubuh lebah memenuhi ruangan sel.Ketika larva memasuki fase pupa, lebah pekerja akan menutupi pintu sel rapat-rapat. Pada kondisi ini, terjadi perubahan tercepat pada tubuh pupa dengan ditandai tumbuhnya sayap dan kaki. Setelah selesai proses metamorfosis, lebah dewasa muncul dari pupa dalam bentuk lebah sempurna.

Siklus hidup lebah madu mulai dari telur, larva, pupa dan akhirnya dewasa. Lamanya siklus hidup untuk setiap jenis lebah madu amat variatif. Awalnya, lebah ratu, pekerja dan lebah jantan berbentuk telur selama 3 hari, lalu jadi larva selama 4-9 hari. Periode pupa mulai berbeda untuk ketiga strata lebah madu ini. Lebah pekerja (10-20 hari), lebah ratu (10-15 hari) dan lebah jantan (10-23 hari). Sedangkan masa dewasa dimulai ratu pada hari ke-16, pekerja di hari ke-21 dan lebah jantan pada hari ke-24.Komunikasi LebahSebagai makhluk hidup, lebah madu memiliki cara komunikasi tersendiri.

Pertama, Komunikasi Lewat Feromon. Cara komunikasi lewat foremon merupakan cara yang paling dominan yang dilakukan lebah madu. Feromon adalah senyawa kimia yang dihasilkan lebah ratu dari kelenjar hipofarink yang membawa informasi-informasi tentang kegiatan yang baru dilakukan anggota koloni sesuai keadaan yang sedang ataupun siap dihadapi. Feromon dihasilkan secara internal, tetapi bekerja eksternal untuk menginduksi reaksi-reaksi yang mengubah tingkah laku individu dalam spesies yang sama.

Penyebaran feromon dalam satu koloni lebah bisa berlangsung melalui kontak tubuh, makanan atau udara sekitar sarang. Perpindahan feromon dari lebah ratu ke lebah pekerja berlangsung saat lebah pekerja mengibaskan antena ke tubuh ratu. Di dalam sarang, feromon siap mengatur aktivitas lebah-lebah pekerja seperti memberi makan ke anggota koloni, membuang lebah yang mati, memberi tanda bahaya dan mengenal sesama anggota koloni. Di luar sarang, feromon sebagai daya tarik seksual untuk merangsang lebah-lebah jantan agar bisa mendekati dan mengawini ratu-ratu perawan atau sebagai kompas penuntun koloni bila sedang migrasi.Kedua, Komunikasi Lewat Tarian.

Lebah pekerja lebih efektif dan efisien mencari nectar bunga atau sumber pakan dengan mengandalkan bantuan lebah pekerja pemandu lewat tari keliling (round dance). Saat seekor lebah pemandu (scout) mendapat sari bunga, ia sering menari di depan sarangnya sebagai kode memberi tahu lokasi sari bunga ke semua rekan.Dengan bantuan radar, para ilmuwan berhasil menjawab pertanyaan kontroversial seputar tujuan lebah menarikan tarian-tarian aneh dan mengibaskan tubuh. Tarian lenggak-lenggok yang populer itu berisi informasi tentang lokasi nektar (sari bunga), seperti yang diduga sejak tahun 1960-an. Awalnya, saat teori itu terungkap, terdapat banyak tanggapan skeptis sebagai akibat langsung dari ketidakyakinan mereka akan lebah yang bisa memahami pesan secara kompleks.

Para peternak lebah sudah sejak lama bertanya-tanya apa tujuan tarian itu, mengapa lebah menunjukkan tarian misterius di hadapan sarangnya sesaat setelah pulang mencari nektar. Biasanya, sebelum memasuki sarang, seekor lebah pembawa nektar melakukan gerakan dalam delapan tarian seperti mengibaskan perut kala menari, di tengah kerumunan lebah lain. Kibasan dan tarian tersebut dilakukan dalam pola berbeda dan terorganisir. Bagi seorang Karl Von Frisch, ahli hewan dan pemenang nobel, sudah pernah melakukan pengamatan agak detail pada tahun 1960-an. Frisch menyatakan, lebah sedang berjuang menyampaikan serangkaian instruksi tentang upaya menemukan sumber sari bunga saat menari.


Sumber Artikel :

  1. -Codex Alimentarius Commission. 1989. Codex Standards of Sugars (honey). Supplement 2 to Codex Alimentarius Vol. III. Food and Agriculture Organization, Rome.
  2. -Hamad, Said. Terapi Madu, Depok : Pustaka Iman,2007.
  3. -Rakhmad R., Basuki, “Madu dan Khasiatnya: Panduan Kesehatan dan Pengobatan untuk Pribadi dan Rumah Tangga”, Yogyakarta:1998
  4. -Sarwono,B. 2001. Lebah madu. Agro Media Pustaka, Tangerang.
  5. -Sihombing, D. T. H. 2005. Ilmu Ternak Lebah Madu. Gajah Mada University Press,Yogyakarta
  6. -Siregar, H. C. H. 2002. Pengaruh metode penurunan kadar air, suhu dan lama
  7. penyimpanan terhadap kualitas madu randu. Tesis. Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogor.
  8. -Siregar, H. C. H. 2006. Pengantar pengenalan madu. Paper. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Pertenakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
  9. -Sumoprastowo, R. & R. A, Suprapto.1980. Beternak Lebah Madu Modern. Bharata Karya Aksara, Jakarta
  10. -Suranto, Adji, dr, SPA,.Khasiat dan Manfaat Madu Herbal, Jakarta : Agromedia Pustaka,2004.
  11. -Suriawira,U.,Madu untuk Kesehatan,Kebugaran dan Kecantikan, Jakarta : Papar Sinar Sinanti,2000
  12. -Warisno,. “Budidaya Lebah Madu,” Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1996.
  13. -Winarno, F.G. Madu, Teknologi, Khasiat, dan Analisa, Jakarta : Ghalia Indonesia ,1982