Bahaya Atau Aman Madu Untuk Bayi

Bahaya Atau Aman Madu Untuk Bayi

Mitos Dan Fakta Bahaya Atau Aman Madu Untuk Bayi

1—Mitos Atau Fakta Madu Untuk Bayi

Di internet sangat banyak artikel-artikel yang menjelaskan dan mengarahkan persepsi para pembaca artikel-artikel akan “Bahaya atau Aman Madu untuk Bayi”. Fakta madu murni mentah asli lebah memiliki kandungan zat anti bakteri,anti virus dan anti jamur sehingga madu juga adalah makanan alami yang aman.

Banyak pendapat di dalam artikel-artikel di internet yang menyatakan bahwa; madu berbahaya untuk bayi (usia ≤ 2 tahun), jangan berikan madu untuk bayi, madu tidak boleh untuk anak usia ≤ 2 tahun,madu tidak aman untuk bayi,dll.

Kemudian, bagaimana sesungguhnya : bahaya atau aman madu untuk bayi ?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut maka, RumahMaduJogja.Com akan membantu Anda (para pembaca,para konsumen madu,penggemar madu asli lebah) dengan menyajikan fakta-fakta madu terkait tentang bahaya atau aman madu untuk bayi. Kemudian, bagaimana anda akan menyimpulkan Mitos atau Fakta Madu untuk Bayi, setelah membaca seluruh artikel ini dengan teliti dan seksama.

2—Pendapat Madu Bahaya Untuk Bayi

Pendapat yang menyatakan jika madu mentah jangan diberikan kepada bayi usia ≤ 2 tahun berdasarkan kepada potensi bahaya kandungan di dalam madu mentah itu sendiri. Menurut mereka yang setuju dengan pendapat ini menyebutkan jika; Madu berpotensi mengandung spora bakteria, yaitu Clostridium botulinum. Meskipun tidak berarti semua madu asli, mentah mengandung spora bakteri Clostridium botulinum. Tetapi, ada baiknya mencegah efek bahaya madu untuk bayi adalah suatu hal yang lebih baik tentunya.

2.1—Bahaya Clostridium botulinum

Bakteri Clostridium botulinum biasa terdapat pada beberapa makanan dan minuman baik dengan pengawet atau tidak. Bakteri clostridium botulinum membentuk sel reproduksi yang disebut spora. Seperti biji, spora bisa hidup di bagian yang tidak aktif untuk beberapa tahun, dan mereka sangat bersifat melawan terhadap kerusakan. Ketika kelembaban dan bahan bergizi ada dan oksigen tidak ada (seperti pada usus atau botol atau kaleng bersegel), spora tersebut mulai bertumbuh dan menghasilkan racun. Beberapa racun dihasilkan oleh *clostridium botulinum*tidak dihancurkan oleh enzim pelindung usus.

Kuman atau bakteri ini akan memproduksi toksin ( zat beracun ) yang bisa menyebabkan penyakit infant botulism ( penyakit botulisme pada bayi ). Penyakit ini sangat serius, meski kejadiannya jarang. Botulism biasanya merupakan jenis makanan beracun. Racun yang menyebabkan botulism, yang sangat berpotensi racun, bisa sangat merusak fungsi syaraf. Karena racun ini merusak syaraf, mereka disebut  neurotoxin. Racun botulism melumpuhkan otot dengan menghambat pelepasan pada neurotransmitter acetycholine dari syaraf. Pada dosis yang sangat kecil, racun bisa digunakan untuk menghilangkan kejang otot dan untuk mengurangi kerutan.

Clostridium botulinum adalah banyak di lingkungan sekitar, dan spora bisa ditransportasikan oleh udara. Kebanyakan kasus pada botulism dihasilkan dari pencernaan atau penghisapan pada kotoran dan debu dalam jumlah kecil. Spora bisa juga memasuki tubuh melalui mata atau luka di kulit.

2.2—Kontaminasi Clostridium botulinum

Foodborne botulism terjadi ketika makanan terkontaminasi dengan racun dimakan. Sumber yang paling umum pada foodborne botulism adalah makanan kaleng rumahan, terutama makanan berisi asam rendah, seperti asparagus, kacang hijau, bit, dan jagung. Sumber lainnya termasuk irisan bawang putih dalam minyak, lada cabe rawit, tomat, kentang bakar dibungkus kertas perak yang tengah dibiarkan pada suhu ruangan terlalu lama, ikan kaleng rumahan dan fermentasi. Meskipun begitu, sekitar 10% penguraian terjadi dari makan makanan cepat saji, sangat sering terjadi, sayuran, ikan, buah-buahan, dan rempah-rempah (seperti salsa). Jarang terjadi, daging, produk susu, daging babi, unggas, dan makanan lain yang menyebabkan botulism.

Luka botulism terjadi ketika clostridium botulinum mengkontaminasi luka atau masuk ke dalam jaringan lain. Di dalam luka, bakteri menghasilkan racun yang diserap ke dalam aliran darah. Obat-obatan suntik dengan jarum yang tidak disterilisasi bisa menyebabkan botulism jenis ini, sebagaimana bisa disuntikkan mengandung heroin ke dalam otot atau di bawah kulit (kulit melepuh).

2.3—Botulism Pada Bayi

Botulism pada bayi dapat terjadi pada bayi yang makan atau minum yang mengandung spora pada bakteri dibanding racun. Spora tersebut kemudian berkembang di dalam usus bayi, dimana mereka menghasilkan racun, penyebab pada kebanyakan kasus tidak diketahui sejak awal, tetapi beberapa kasus telah dihubungkan sebagai akibat makan/minum madu pada bayi. Botulism bayi terjadi paling umum diantara bayi yang lebih muda dari usia 6 bulan.

Penyakit jenis keracunan makanan ini akan mempengaruhi sistem syaraf bayi dan bisa menyebabkan kematian. Beberapa pendapat menyatakan botulism terjadi pada bayi karena pola kuman baik di saluran cerna bayi belum selengkap orang dewasa sehingga ,meyebablan spora botulism berkembang di sistem pencernakan bayi.

Padahal, bakteria baik ini bisa mengatasi spora botulisme dan mencegahnya berkembang biak. Sehingga, secara otomatis tidak akan terjadi pembentukan toksin yang berbahaya.

2.4—Gejala Botulism Pada Bayi

Racun botulism/Toksin ini mengakibatkan terjadinya kelumpuhan otot. Gejala-gejala botulism pada bayi seperti: tidak bisa pup ( atau justru diare, mual, muntah ); lengan, kaki dan lehernya lunglai; menangis lemah ( akibat kelemahan otot) ; tidak kuat menyusu; serta lesu.

Catatan: Toksin bisa menyebabkan kematian dalam waktu 24 jam.

Selain itu, spora botulisme bisa ditemukan di makanan yang kurang matang. Jadi, sebaiknya jangan berikan madu sebagai makanan tambahan pada bayi yang belum berusia minimal dua tahun. Mengkonsultasikan terlebih dahulu dengan ahli kesehatan anak jauh lebih baik.

Gejala-gejala pada foodborne botulism terjadi tiba-tiba, biasanya 18 sampai 36 jam setelah racun memasuki tubuh, meskipun gejala-gejala bisa mulai lebih cepat selama 4 jam atau selambat-lambatnya 8 hari setelah mencerna racun. Racun yang lebih banyak diserap, lebih cepat orang menjadi sakit. Biasanya, orang menjadi sakit dalam waktu 24 jam makan makanan terkontaminasi adalah yang sangat parah terkena.

Gejala-gejala pertama pada foodborne atau luka botulism biasanya termasuk mulut kering, penglihatan ganda, kelopak mata layu, dan ketidakmampuan untuk fokus pada benda di sekitarnya. Pupil pada mata tidak mengkerut dengan normal ketika terkena sinar selama pemeriksaan mata. Bagaimanapun, pada foodborne botulism, gejala-gejala pertama seringkali mual, muntah, kram perut, dan diare. Orang yang memiliki luka botulism tidak mengalami gejala-gejala pencernaan apapun.

Kerusakan syaraf oleh racun mempengaruhi kekuatan otot tetapi bukan indra perasa. Nada otot pada wajah kemungkinan hilang. Berbicara dan menelan menjadi sulit. Karena menelan adalah sulit, makanan atau ludah seringkali terhisap ( asoirated ) ke dalam paru-paru, menyebabkan cekikan atau sumbatan dan meningkatkan resiko pneumonia. Beberapa orang menjadi sembelit. Otot pada lengan dan kaki dan otot yang berhubungan dalam pernafasan menjadi lemah secara progresif sebagaimana gejala-gejala secara bertahap menurunkan tubuh. Masalah pernafasan kemungkinan mengancam nyawa.

Pada sekitar 90% bayi dengan infant botulism, sembelit adalah gejala awal. Kemudian otot menjadi lumpuh, dimulai dari wajah dan kepala dan segera menuju lengan, kaki dan otot yang berhubungan dengan pernafasan. Kelopak mata layu, menangis lemah, bayi tidak bisa menghisap, dan wajah mereka kehilangan ekspresi. Kisaran masalah dari menjadi lemah dan lambat makan sampai kehilangan nada otot dalam jumlah besar dan mengalami kesulitan bernafas. Ketika bayi kehilangan nada otot, mereka bisa merasa timpang yang abnormal.

2.5—Mencegah Kontaminasi Spora Botulism

Spora dari clostridium botulinum sangat resisten terhadap panas dan bisa bertahan pada rebusan untuk beberapa jam. Meskipun begitu, racun dengan cepat dihancurkan oleh panas. Makanan yang disimpan dalam kaleng bisa menyebabkan “botulism” jika mereka tidak cukup dimasak sebelum mereka disimpan. Bakteri bisa menghasilkan beberapa racun pada suhu serendah 37.4°F , biasanya suhu pendingin, sehingga membekukan makanan tidak otomatis membuatnya aman.

Cara-cara berikut bisa membantu mencegah foodborne botulism :

  1. Memasak makanan pada suhu 176° F (79.9°C) selama 30 menit, hampir selalu menghancurkan racun.
  2. Merebus makanan kaleng rumahan selama 10 menit, menghancurkan racun.
  3. Membuang kaleng makanan yang berubah warna atau baunya busuk.
  4. Membuang kaleng yang menggembung atau bocor.
  5. Membekukan minyak yang terkena bawang putih atau rempah-rempah.
  6. Menjaga kentang yang telah dipanggang dalam kertas aluminium tetap panas sampai dihidangkan.
  7. Tidak memberi makan madu anak yang berusia di bawah 2 tahun, yang bisa mengandung clostridium botulinum spora.

Jika orang tidak pasti kaleng harus dibuang, mereka bisa memeriksa ketika mereka mulai untuk membuka. Sebelum membuat tusukan pertama, mereka bisa meletakkan beberapa tetes air di dalam daerah tersebut untuk ditusuk. Jika air terusir dibandingkan terhisap ke dalam kaleng ketika kaleng ditusuk, kaleng terkontaminasi dan harus dibuang.

Berbagai makanan kemungkinan terkontaminasi harus diletakkan dengan hati-hati. Bahkan racun dalam jumlah sedikit yang tercerna, terhisap, atau terserap melalui mata atau luka di kulit bisa menyebabkan penyakit serius. Sentuhan kulit harus dihindari sebanyak mungkin, dan tangan harus segera dicuci setelah memegang makanan.

Jika luka menjadi terinfeksi, dengan segera mencari perawatan medis bisa mengurangi resiko luka botulism.

3—Penelitian “Madu” Dan “Botulism”

Berdasarkan pada pendapat dari sebagian pihak bahwa madu tidak boleh diberikan pada anak dibawah usia 1-2 tahun dengan alasan madu tersebut dikhawatirkan bisa menyebabkan sakit yang disebut Botulism (di sebabkan oleh clostridium Botulinum). Maka, dari pendapat tersebut dilakukan beberapa penelitian ilmiah untuk menyimpulkan : Bahaya Atau Aman Madu Untuk Bayi ?

Penelitian tentang hubungan “Madu” dan “Botulism” telah dilakukan oleh “team dokter dari rumah sakit Al Kafji National Hospital-Saudi Arabia”,yang meneliti lebih dari 220 contoh madu dari berbagai negara dan interview dengan keluarga dari 1500 bayi lebih yang di beri madu sejak lahir.

Dari penelitian ini membuktikan “TIDAK ADA SATUPUN” madu yang tercemar clostridium Botilinum dan tidak ada satupun bayi yang menderita Botulism karena madu.

Jadi peluang adanya Clostridium Botilium pada madu,sama dengan peluang keberadaannya pada bahan makanan lain yang berasal dari alam seperti susu dan lain-lain. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan jika: madu aman di konsumsi segala usia bahkan bayi dibawah usia 1 tahun.

Penelitian Madu untuk Bayi juga dilakukan oleh Dr.M.H.Haycak dan Dr.M.C.Tanquary dari universitas Minnesota, dan Dr. Schultz dan Dr.Knott dari bagian penyakit anak-anak Universitas Chicago: Dua kelompok anak-anak dibiasakan konsumsi madu untuk menentukan efek dari berbagai jenis bayi: 4 orang dari 7 -13 tahun dan 9 bayi yang usianya berkisar antara 2-6 bulan.

Hasilnya adalah bila diberikan madu selama 15 menit, madu terserap lebih cepat dari berbagai jenis gula yang telah di uju coba, dengan perkecualian untuk glukosa. Madu tidak mengakibatkan bahaya pada bayi tersebut. Kandungan madu murni mentah sangat cocok untuk perkembangan bayi.

Madu murni mentah juga adalah bermanfaat sebagai anti jamur,anti bakteri dan anti virus jadi bakteri seperti: Clostridium Botilium sulit hidup dan berkembang di dalam larutan madu. (baca: perbedaan madu mentah dengan madu olahan)


Daftar Pustaka :
  • Aden R,.Manfaat dan Khasiat Madu: Keajaiban Sang Arsitek Alam.Yogyakarta: Hanggar Kreator.2010
  • Buckle, F.A; R A Edwards, G H fleet dan M. Wotton,. Ilmu Pangan. UI Press. Jakarta.1987
  • Honey as Carbohydrat Infant Feeding, oleh F.W.Schultz dan E.M.Knott, Jornal of Paediatrics 13:465-473
  • Purbaya,Rio,J,.“Mengenal dan Memanfaatkan Madu: Khasiat Madu Alami”, Bandung: Pionir Jaya, 2002
  • Rakhmad R., Basuki, “Madu dan Khasiatnya: Panduan Kesehatan dan Pengobatan untuk Pribadi dan Rumah Tangga”, Yogyakarta:1998

Artikel Terkait :

Related posts